Cerita Tentang Ibu dan Anak Perempuannya yang Menderita Kanker

Kawan… Tahukah kalian sejauh apa kasih sayang seorang Ibu pada anak perempuannya?

Ya, karena aku laki-laki jadi aku tidak tahu dan mengerti soal itu. Hehehe. Tapi Sabtu pekan lalu, pertemuanku dengan Ibu guru favoritku saat SMA dan anak perempuannya menjelaskan segalanya. ***

Empat bulan terakhir memperhatikan status-status Ibu guruku di facebook membuat hatiku meringis. Statusnya penuh kesedihan dan kepasrahan pada Allah.Ā  Pedih sekali hatiku saat membaca status Ibu yang seolah mengisyaratkan kematian atau kondisi yang sedang dihadapinya memang setara dengan kematian. Ternyata anak perempuannya sakit dan mendapatkan tindakan medis yang cukup kritis, awalnya kukira beliau sakit parah atau kenapa.

Oya… saat itu aku tidak terlalu kepo dengan kondisi anak perempuan guruku itu, baru sekarang kusadar sebagai murid perhatianku pada guruku buruk. Hiks-hiks.

Sekitar seminggu yang lalu, status Ibu guruku itu muncul di berandaku. Namun bukan statusnya yang membuatku penasaran, tapi lokasi di mana dia membuat status. Tertulis “Kota Harapan Indah, Bekasi” di bawah statusnya yang jujur terlupakan. Hehehe.

Akhirnya aku chating dengan beliau dan ternyata Ibu sudah sebulan tinggal di Bekasi. Hei… ini jelas kabar baik untukku, sudah dua tahun aku tak menjumpainya dan selama enam tahun sejak lulus SMA aku baru sekali menemuinya. Ibu meninggalkan kesan yang dalam karena beliau satu-satunya guru yang tetap mengingatku saat aku berada di titik nadir. Melow mode on.

Akhirnya janji pun dibuat, Sabtu sore aku akan mengunjunginya. Berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benak dan pikiranku kusimpan; apakah Ibu masih mengajar, kenapa Ibu tinggal di Bekasi, bagaimana kabar SMA Rancaekek dan lainnya. ***

“Ibu lagi kena musibah.” tutur Ibu pelan.

Deg! Di ruang tamu lengang beralaskan karpet ini, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik saat Ibu menumpahkan segala cerita. Rumah luas dengan minim perabotan di dalamnya ini hanya ditinggali oleh Ibu dan anak perempuannya yang… menderita kanker tulang. Tiba-tiba serasa ada beban berat yang menggantung di pundakku.

“Udah sebulan Ibu nggak ngajar.”

Ya, bagaimana mungkin Ibu fokus ngajar dengan kondisi anaknya seperti itu? Semua bermula ketika anak Ibu mengeluh sakit yang teramat sangat di lututnya dan bahkan dia sampai tak bisa melangkahkan kakinya. Berbagai pengobatan baik medis maupun alternatif sudah dilakukan namun kondisinya tak kunjung membaik. Hingga dokter pun menyarankan untuk melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Ibu khawatir dan takut… tapi hasil MRI itu benar-benar menyeramkan. Anak Ibu didiagnosa kanker tulang dan sebelah kakinya harus diamputasi sampai ke paha. Kenyataan itu membuat Ibu merasa hancur.

Aku semakin sesak mendengar cerita Ibu… sungguh semua ujian dan masalah yang kuhadapi tak ada yang seberat ini.

“Ibu nggak terima dengan kondisi ini. Ibu ke Rumah Sakit Dharmais cari solusi yang lain tapi rekomendasi Profesor di sana sama. Harus diamputasi. Ada yang ngomong sekarang teknologi kaki palsu udah canggih. Enak aja mereka ngomong, nggak ngerti perasaan yang mengalaminya. Apalagi ini perempuan.” curhat Ibu.

Betul… aku sedikit banyak bisa memahami perasaan Ibu dan betapa sulit masa depan seorang anak perempuan jika sebelah kakinya harus diamputasi sampai paha.

Kawan… di sini lah aku mendapatkan hikmah betapa besar kasih sayang Ibu. Sekalipun semua dokter dan profesor di Indonesia memutuskan agar anak Ibu segera diamputasi. Ibu tak menyerah dengan jawaban yang ada. Ibu mencari alternatif yang lain agar anaknya tak diamputasi hingga informasi tentang satu rumah sakit kanker di Cina sampai padanya. Untunglah Ibu tak harus ke Cina karena salah satu dokter atau Sinshe dari rumah sakit itu tinggal di Bekasi. Berapapun biayanya Ibu upayakan agar anaknya bisa sembuh tanpa amputasi.

Di balik ujian yang berat itu, selalu ada kemudahan jika kita mencoba melihatnya. Semesta membantu Ibu. Salah satu teman Ibu saat SMA yang kini jadi konsultan properti membantu Ibu mencarikan kontrakan di Bekasi. Alhamdulillah… pemilik kontrakan pun begitu baik pada Ibu. Kontrakan yang harusnya setahun bisa disewa hanya 6 bulan dan dapat ditawar lagi. Saat mendengar Ibu bercerita tentang itu aku langsung tersenyum dan haru. Ya Allah… betul kata Ibu, di setiap kesulitan selalu ada kemudahan dariMu.

Kini sudah sebulan anak Ibu menjalani terapi dengan obat-obatan alternatif yang tak murah. Syukurlah rumah dokter atau Sinshe itu dekat sekali dengan rumah di mana Ibu mengontrak. Perkembangannya pun positif, anak Ibu bisa mulai jalan dan bergerak dengan bantuan kursi roda. Awalnya dia malah tak bisa bergerak sama sekali.

Oya… nama anak Ibu guruku diambil dalam bahasa Arab yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya obat atau penyembuh. Harapanku sama seperti harapan Ibu pada anak perempuannya agar dia bisa sembuh total dan hidup dengan normal.

Kawan… Tahukah kalian sejauh apa kasih sayang seorang Ibu pada anak perempuannya?

Ibu lah orang terakhir yang tak kan pernah menyerah memperjuangkan kebahagiaan anak perempuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s