Nasihat Bapak Dr. HM. Syahrial Yusuf SE, MM, MBA untuk para Mujahid Preneur

Kejarlah Akhirat, Maka Dunia Akan Mengejarmu…

 

Anak-anakku yang diridhai Allah SWT, andaikan di masa depan nanti kalian menjadi orang kaya, memiliki banyak uang, gedung bertingkat, perusahaan yang mapan, sederet rumah mewah dan lain sebagainya, apakah itu semua telah menunjukkan bahwa kalian telah sukses?
Belum tentu anakku, sesungguhnya kita hanya bisa tahu apakah kita sukses atau tidak di akhirat nanti, bukan di dunia. Oleh karena itu, sebagai mujahidpreneur, bisnis yang kalian bangun harus berorientasi pada akhirat.
Melalui bisnis yang berorientasi pada akhirat, kalian akan memiliki kekayaan hati, semua urusan menjadi baik dan dunia akan tunduk pada kalian dengan penuh kehinaan. Bahkan ketika kalian terpuruk sekalipun, kalian selalu mampu bangkit kembali karena yakin akan rezeki yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk kalian.

 
Ketahuilah Anakku, bangsa yang kehidupannya berorientasi pada akhirat akan senantiasa damai sentosa karena penduduknya memiliki kekayaan hati dan memiliki rasa kepercayaan tinggi satu sama lainnya. Berikut ini Bapak kisahkan pada kalian akan indahnya kehidupan masyarakat berorientasi akhirat pada masa kekhalifahan Makmu Ar-Rasyid. Semoga kisah ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama.

 
Al-Waqidi RA menceritakan, “Saya mempunyai dua orang teman, yang satu dari Bani Hasyim dan yang lainnya bukan dari Bani Hasyim. Hubungan kami sangat akrab bagaikan satu badan dengan tiga hati. Ketika Hari raya Idul Fitri hampir tiba, saya sedang dalam kesusahan. Istri saya berkata, ‘Kita dapat bersabar dalam setiap keadaan. Akantetapi, sebentar lagi hari raya akan datang, sehingga hati saya seperti hancur apabila melihat anak-anak kita mengenakan pakaian yang usang dan compang-camping, sedangkan anak-anak tetangga berpakaian baru dan mengenakan perhiasan yang bagus untuk hari raya. Demi anak-anak, saya harus dapat mencari sesuatu dan membuatkan baju untuk mereka.’
Begitu mendengar perkataan istri saya itu, saya menulis surat kepada teman saya yang berasal dari Bani Hasyim. Di dalamnya saya menulis tentang keadaan saya yang sebenarnya. Kemudian ia mengirimkan kantong berisi uang seribu dirham kepada saya dan menyuruh saya agar menggunakan uang tersebut untuk keperluan saya. Pada saat saya hampir menikmati pemberian hadiah tersebut, datanglah sepucuk surat dari teman saya yang lain. Dalam surat tersebut, ia menceritakan keadaannya yang sesungguhnya, dan ia meminta bantuan saya sehingga saya mengirimkan uang seribu dirham itu kepadanya.

 
Karena malu, saya tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menginap di masjid selama dua hari berturut-turut. Kemudian, pada hari ketiga, pulanglah saya ke rumah dan saya menceritakan semua kejadian tersebut kepada istri saya. Ternyata istri saya tidak marah dan tidak mengeluh, bahkan sangat senang dengan perbuatan saya itu. Katanya, ‘Engkau telah melakukan perbuatan yang terbaik.’
Ketika kami sedang duduk berbincang-bincang, teman saya yang berasal dari Bani Hasyim datang dengan membawa kantong. Lalu ia berkata, ‘Ketika suratmu datang, saya tidak mempunyai uang kecuali ini, yang kemudian saya kirimkan kantong uangj ini kepadamu. Setelah itu, saya menulis surat kepada teman kita yang satu lagi. Sebagai jawaban, ia mengirimkan kantong ini kepada saya. Saya merasa heran, karena kantong ini saya kirimkan kepadamu. Lalu bagaimana bisa sampai kepada teman kita yang satu lagi. Karena itu, saya datang untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.’

 
Akhirnya, kami berikan uang seratus dirham dari uang tersebut keapda istri saya, dan yang sembilan ratus dirham kami bagi bertiga. Ketika kejadian ini terdengar oleh Khalifah Makmun Ar-Rasyid, ia memanggil saya dan ingin mendengar semua kisahnya. Setelah mendengar kisah tersebut, Khalifah Makmun Ar-Rasyid memberi saya uang tujuh ribu dirham. Kemudian uang tersebut saya berikan kepada istri saya sejumlah seribu dirham, sedangkan yang senam ribu dirham kami bagi bertiga.”

 
Subhanallah Anakku, mampukan kita memiliki kepercayaan sosial yang tinggi seperti mereka? Alangkah indahnya kalau kisah ini terjadi di negeri kita, di mana semua orang memiliki kekayaan hati yang berlandaskan akhirat sehingga mereka tidak ragu berkorban bagi saudaranya. Mereka menjadikan dunia hanya sebagai terminal pemberhentian sesaat untuk kehidupan kekal di akhirat sana. Oleh sebab itulah, ketika Bapak merumuskan formula Spiritual Entrepreneur Quotiont (SEQ), Bapak menempatkan kehidupan yang berorientasi akhirat, sebagai kecerdasan pertama yang harus kalian kuasai ketika kalian memutuskan menjadi seorang mujahidpreneur.

 
Menurut pandangan Bapak, seorang mujahidpreneur sejatinya harus memiliki kecerdasan yang berorientasi akhirat di samping sempat kecerdasan SEQ lain, seperti mengingat kematian, dizikir mengingat Allah, khalifat Allah di bumi, dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kecerdasan-kecerdasan ini perlu kalian kuasai ketika kalian hendak menjalankan bisnis kalian. SEQ merupakan kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan karifan di luar ego atau jiwa sadar kita. SEQ adalah kecerdasan jiwa. Ia merupakan kecerdasan yang dapat membantu kita untuk membangun diri secara utuh, bermental pengusaha yang mengintegrasikan bisnisnya dengan spiritualisme Islam.

 
Kembali ke pembahasan kita mengenai kecerdasan yang berorientasi akhirat, kita harus mengetahui bahwa kehidupan yang dianugerahkan Allah SWT sesungguhnya memiliki dimensi pilihan. Kemampuan kita memilih saat ini akan menentukan kehidupan kita di kemudian hari. Dimensi pilihan ini menempatkan kita menentukan orientasi kehidupan yang kita inginkan, pihan warna dan corak diberikan secara bebas dengan panduan dan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Salah satu tuntunan itu adalah adanya kehidupan akhirat yang menjadi babak baru dari kehidupan kita, di ana kehidupan dunia hanya terminal dari kehidupan lebih lanjut yang disebut dengan akhirat.
Ketika kebebasan diberikan Allah kepada kita untuk menikmati panorama dunia, sejalan dengan itu pun akhirat sesungguhnya akan berjalan mengiringi kita. Oleh sebab itulah kita harus memiliki sikap hidup dan kecerdasan yang berorientasi akhirat, agar kita tidak terjebak kehidupan semu di dunia yang cenderung merusak. Melalui kecerdasan ini, akan lahir kerinduan yang sangat besar dan kuat dalam diri kita akan akhirat, sehingga akhirnya akan mengejawantah dalam kehidupan kita, dalam berkarya, bekerja dan bersikap.

 
Hal ini tentu saja akan berdampak pada kehidupan sosial kita, sehingga akan menimbulkan perasaan senasib dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Kondisi ini akan melahirkan dorongan kuat dari dalam diri kita untuk berupaya sekuat tenaga membantu meringankan kesulitan yang dialami oleh mereka. Misalnya dengan membuka lahan pekerjaan, menyantuni mereka, memotivasi mereka untuk bangkit dari keterpurukan dan lain sebagainya. Melaluikecerdasan berorientasi akhirat ini, kita akan menyadari adanya amanat-amanat Allah yang harus kita tunaikan sebelum kahirnya harus kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Oleh karena itu, Anak-anakku, yakinlah mellaui kecerdasan berorientasi akhirat ini kita pasti akan mendapatkan solusi terbai dari Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanyta akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara. Pertama, Allah menadikan kecukan di hatinya, kedua, Allah mengumpulkan urusannya, ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hinda. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka di amendapatkan tiga perkara pula. Pertama, Allah menjadikan kemelaratan ada di depan mata, kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya, ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.” (HR At-Tirmidzi) (Sumber: Buku Anakku Maukah Kau Jadi Pengusaha? Penulis: Dr. HM. Syahrial Yusuf SE, MM, MBA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s