JANGAN PERNAH MENYERAH, PASRAH DAN PUTUS ASA

sukses lagi

”Jangan pernah menyerah, jangan pernah pasrah, dan jangan pernah putus asa

Kata pepatah bijak menyebutkan bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kata ini dimaksudkan sebagai pemompa semangat juang seseorang ketika kegagalan menerpa. Intinya jangan pernah menyerah, jangan pernah pasrah, jangan pernah putus asa ketika kita mengalami suatu cobaan. Berikut contoh-contoh pengusaha sukses yang tidak pernah menyerah mesti kegagalan menimpanya.

Pengalaman Positif Dan Negatif Dua-Duanya Berguna

Irwan Danny Mussry, seorang presiden direktur perusahaan jam tangan eksklusif yang terlena karena keuntungan yang terlalu cepat diraih. Ceritanya dimulai ketika ia tertarik dengan jual beli mobil karena keuntungannya yang cepat dan besar sejak duduk di bangku kuliah, justru karena keuntungan itu ia jadi bersikap konsumtif sehingga modalnya justru ludes.

Nurhayati Subakat, seorang pemilik PT. Pusaka Tradisi Ibu yang memproduksi kosmetik Wardah dan Zahra yang ditipu oleh salesnyadimasa awal pengembangan usahanya. Namun hal tersebut tidak membuatnya jera, melainkan dijadikan sebagai pelajaran yang berharga sehingga semakin ahli dalam berhubungan dengan tenaga pemasaran dan membuatnya lebih paham celah-celah yang bisa dimanfaatkan oleh tenaga pemasaran yang harus disempurnakan.

Total Football

Dahlan Iskan, Seorang pemilik Jawa Pos Group dari Surabaya, yang mengalami kegagalan juga. Memang, mantan wartawan majalah Tempo itu juga mencatat banyak cerita sukses, seperti membesarkan koran Jawa Pos dari tiras 6800menjadi lebih dari 350 ribu eksemplar, menerbitkan lebih dari 74 harian, mendirikan Java TV, dan membenahi beberapa menejemen koran daerah.

Awal usahanya bermula dari tahun 1982 ketika Eric Samola, Direktur Utama Graffiti Pers, penerbit Majalah Tempo memberikan tugas kepadanya, Kepala Biro Surabaya untuk mengambil alih pengelolaan Java Pos yang telah terbit sejak 1949. Padahal saat itu nasib Java Pos seperti tak ada air minum bagi para pekerjanya, hingga menulis berita menggunakan kertas bekas.

Setelah sebula ia beradaptasi ia menerapkan sistem total football yang melibatkan seluruh keluarga karyawan termasuk istrinya  Napsiah yang ditugasi sebagai sales eksekutif untuk memasarkan koran tersebut dengan cara membagikan 100 eksemplar gratis setiap hari dengan harapan setelah mereka suka pasti akan berlangganan.

Strategi tersebut cukup ampuh dan kemudian ia melakukan pembentukan redaksional agar penulisan menjadi lebih lugas dan enak dibaca. Hingga tahun 1984 Java Pos mencatatkan oplahnya sampai 40 ribu eksemplar, selain itu ia juga memanfaatkan momen-momen dunia untuk lebih menarik pembaca seperti piala dunia 1984, jatuhnya diktator Filiphina Ferdinand Marcos, dan Liga Indonesia 1988.

Kemudian ia memanfaatkan otonomi daerah sebagai peluang untuk menerbitkan koran dikota-kota berukuran sedang seperti Bogor, Tangerang, Madura, Kediri, Solo, Jogjakarta, Cirebon, dan Banyumas. Semua usahanya sukses, termasuk menyehatkan koran daerah yang sudah ada diantaranya harian Fajar, Makasar, Manado Pos, Suara Maluku, Cenderawasih Pos. dari bisnisnya itu Dahlan meraup untung hingga 600 miliar rupiah per tahunnya dengan total aset yang dimiliki lebih dari 1,2 trilyun rupiah. Akhirnya ia kepincut untuk mengembangkan usaha dibidang perhotelan yang dibangunnya di Batam dengan nama Nagoya Plaza Hotel dan Sasando Internasional Hotel di Kupang. Rupanya peruntungannya bukan dibidang ini meski tak sampai bangkrut tapi usahanya gagal dan tidak berkembang. Ia pun memetik hikmah dari kegagalannya itu dengan semakin menegaskan bahwa bakat bisnisnya memang tak jauh dari media.

Kapok Membabi-buta

Widhi Astono, seorang mantan eksekutif Group Bakrie alumnus Fakultas Ekonomi UI dan Master dari ITB yang mendirikan perusahaan kansultan manajemen, keuangan, dan pengembangan SDM, juga bukan pengecualian. 25 tahun ia berkarir di empat perusahaan kelompok usaha Bakrie ketika memutuskan untuk mundur. Pilihan memutuskan mendirikan perusahaan konsultan didasarkan atas pertimbangan krisis ekonomi yang membuatnya yakin adanya peluang jasa restrukturisasi keuangan.

Setelah sukses menjaring klien, didirikan perusahaan pengembangan SDM yang juga berhasil menjaring klien kelas kakap. Ia pun kemudian mengembangkan peternakan ikan nila yang terbilang sukses juga dengan dengan panen perdananya mencapai 7 ton. Tapi kesuksesan memang tidak berjalan abadi, karena persaingan harga ikan nila mengalami kemerosotan harga dan kini berjalan sekedarnya asal bisa menutup biaya produksi. Kemudian ia mendirikan usaha perkayuan dan restoran dengan investasi lebih dari 400 juta rupiah, tetapi keberhasilan tidak mampir sedikitpun dan bisnisnya gagal total, namun selalu ada hikmah dibalik kegagalan dan ia pun kapok membabi buta mengambil peluang bisnis yang tidak diketahui dengan betul-betul.

Berusaha Seperti Orang Beriman

Sementara menurut Joko Adiarto pemilik Bengkel AC Global berwirausaha itu seperti halnya orang beragama, hal pertama yang harus dimiliki adalah beriman maksudnya jika usaha benar-benar dikelola dengan sungguh-sungguh maka harus percaya akan berhasil. Kemudian beribadah menurut ketentuannya, artinya orang berbisnis harusprofesional dengan melakukan hal yang dianggap baik, selanjutnya adalah kesabaran yang harus dimiliki rata-rata sekitar dua tahun agar dapat memberikan keuntungan yang memadai.

Modal Sebagai Batu ujian

Uripto Widjaja, seorang pendiri TOA-Galva Industries dengan Amplifier dan pengeras suara yang banyak dipakai di masjid-masjidseluruh nusantara. Ia mengawali usahanya setelah setahun proklamasi kemerdekaan dengan membuka jasa reparasi barang elektronik terutama radio yang diberi nama Galva yang diambil dari nama seorang ahli listrik asal italia Luigi Galvani.

Kelangkaan barang elektronik seperti radio termasuk barang mewah namun banyak di cari orang untuk mendengarkan perkembangan mutakhir sehingga memberi peluang baginya dan kedua mitranya yang membeli radio rusak, merespirasi dan kemudian menjualnya kembali ke pasar. Tahun 1965 usahanya berubah menjadi tempet perakitan dengan radio pertama dua band bermerek  Galindra dengan penjualan mencapai angka 500 unit per bulannya.

Mulai awal tahun 60-an ia mulai melirik usaha pengeras suara merek TOA, mulai dari agen distribusi hingga tahun1975 kemudian membangun pabrik sound system dengan menggandeng TOA dan UMITOMO dengan total investasi sekitar satu juta dolar AS. Tahun 1965 ia mengalami kesulitan permodalan, kemudian ia sempat merambah bisnis Hak Pengelolaan Hutan dan juga mengalami kegagalan sampai-sampai ia ditinggalkan dua karibnya Subrata Pranatadjaja dan Okar Senda karena mengundurkan diri.

dengan menjalankan sendiri usahanya kini TOA-Galva Industries terbukti piawai menghadapi sandungan, bukan cuma perangkat halo-halo kini juga dikenal sebagai produsen monitor komputer dengan merek GTC yang sudah merambah ke pasar ekspor dengan nilai lebih dari 300 juta dolar AS.

Ujian Kesabaran Dari Bom Bali

I Gde Wiratha, seorang pengusaha dan Ketua Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia pemilik Paddy’s Cafe di Jl.Legian, Kuta, Bali. Tragedi Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 yang meluluh lantakan kafenya membuat ia merugi puluhan miliyar rupiah. Padahal jaringan bisnisnya dengan 30 anak perusahaan mempekerjakan 3000 karyawan yang sebagian besar berkutat di bidang pariwisata.

Ia memang pengusaha yang tahan banting dengan membangun usahanya kembali dengan modal 100 miliar rupiah. Sejak kecil sampai remaja ia telah menjalani berbagai profesi mulai dari penjual buah, kernet bia Damri, pembuat sepanduk, pekerja pom bensin, penjaga pintu bioskop, pencuci piring hotel, sampai pemasok pupuk kandang pun ia jalani.

Namun nasibnya mu;lai berubah cerah ketika sebagai mahasiswa Universitas Udayana ia terpilih sebagai pemenang lomba Desain Pembangunan Hotel Jayakarta (Kuta Place Hotel) tahun 1973 dan mendapatkan hadiah sebesar 15 juta rupiah, betapa besarnya nominal itu di tahun 70-an bagi seorang mahasiswa. Setelah bisa mendirikan perusahaan Gde and Kadek Brothers ia mulai membuka restoran yang dinamai Bounty, setelah sukses ia melebarkan sayapnya dengan membangun Hotel Bounty, diskotik, perusahaan taksi Praja, perusahaan garmen, Vila Rumah Manis, dan jasa penyebrangan menggunakan kapal cepat Bounty Cruise yang menelan dana 9,6 juta dolar AS. Meski dihantam berbagai gelombang krisis ekonomi 1997, bam bali 2002, wabah penyakit SARS ia merencanakan pembangunan Paradise Airline.

Sempat Ditipu Dan Ditolak

Susi Pudjiastuti, pemilik PT. Andhika Samudera Internasional kelahira Januari 1965 yang bergerak dibidang ekspor hasil laut ditipu orang dan membuatnya kehilangan modal 700 juta rupiah. Berawal sebagai penjual ikan tahun 1983 dengan modal 100 ribu rupiah membeli ikan ke nelayan di Pangandaran Sukabumi dan menjualnya ke Jakarta dengan menyetir kendaraan sendiri. Kemudian ia juga pernah menjalani profesi sebagai pedagang kakilima, pencari harta karun di Nusakambangan, dan berburu sarang walet.

Tahun 1995 ia berhasil menyewa pabrik di Sukabumi dan mengirim lobsternya ke perusahaan pemasok ikan, Jepang Dan Korea dengan nilai 78 ribu dolar AS. Setelah sukses datanglah seorang pengusaha Jepang dan Korea menawarkan kerjasama dan mendirikan pabrik pengolahan ikan di Pangandaran. Tapi nasib baik belum berpihak kepadanya dan ia ditipu dua pengusaha tersebut yang membuatnya rugi 700 juta rupiah.

Untungnya pertolongan datang dari pengusaha asal jepang juga yang memberikannya pinjaman modal L/C senilai 200 juta dolar AS, 30 juta yen. Dengan modal itu ia mencari pinjaman ke bank sebesar 450 juta rupiah dan kemudian berhasil mengekspor 20 ton ikan layur yang bernilai 30 ribu dolar AS. Hingga akhirnya ia bisa mencapai angka ekspor 500 ton atau setara dengan satu jut dolar AS per tahunnya. Kini ia juga membangun pabrik, Restoran Hilman’s Fish Farm dan guest house miliknya menyatu dengan lingkungan dan perumahan penduduk sekitar.

Kiat Mengatasi Kegagalan

1.Jangan terlalu terbenam dalam kesedihan, dan segera analisa kegagalan anda

2.Jangan main pukul rata bila anda mengalami kerugian / kegagalan dalam suatu usaha dan cobalah ubah strategi atau ganti ladang bisnis anda dengan peluang yang lain

3.Ada baiknya kerugian, kegagalan dan batas kesabaran anda dalam menghadapi ujian bisnis didefinisikan dengan kriteria yang jelas.

(Dari berbagai Sumber.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s