PERAN LP3I DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Ketika usianya masih 24 tahun, tahun 1913, beliau sudah menulis Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”): “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Image

Itulah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian lebih dikenal dengan “Ki Hajar Dewantara”. Kenapa dia menulis catatan yang berani sekali di jaman itu, tiada lain karena idealisme yang begitu kokoh di usia yang masih sangat muda. Catatan ini seharga dengan ditangkap oleh Gubernur Jenderal Idenburg, lantas dibuang ke pulau Bangka. Tahun 1922, di usia 33 tahun, dia mendirikan Taman Siswa, lantas di usia 40 tahun, beliau mengganti namanya dengan Ki Hajar Dewantara, melepas gelar ningrat, dia hanya ingin dikenal dengan sebutan simpel, lebih dekat dengan orang banyak, mendidik banyak orang.

Beliau adalah Menteri Pendidikan Nasional pertama di Indonesia, saat dia menjadi Menteri tahun 1945, Ki Hajar Dewantara sudah bertahun-tahun lamanya menjadi seorang guru, sudah makan asam garam mendidik orang banyak lewat Taman Siswa.

Kita tidak perlu mencari konsep pendidikan ke luar negeri yang hebat-hebat itu, buat apa? Ki Hajar Dewantara sudah mewariskan konsep terbaiknya: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Simpel, dan tidak macam-macam. Tapi itulah hakikat pendidikan. Dan sepertinya, konsep pendidikan itu sudah berubah hari ini: di depan memberikan UN, di tengah memberikan UN, di belakang juga memberikan UN. Dan jangan lupa, mungkin juga sudah berubah: di depan diminta uang, di tengah diminta uang, di belakang juga diminta uang. Tapi lupakanlah. Ini hanya catatan simpel di hari pendidikan nasional. Tidak dalam rangka untuk menyindir, menyinggung, meskipun di jaman kebebasan berpendapat seperti sekarang, orang-orang jelas aman mengeluarkan pendapat, tidak akan dibuang ke Bangka.

Fenomena gagalnya pendidikan bersinergi dengan kebutuhan pasar, menunjukkan betapa gagapnya system pendidikan kita. Apa pasalnya? Peran pemerintah terlalu kuat dan menganeksasi system pendidikan. Peran strategis masyarakat pun tak terlihat, kalaupun memungkinkan hanya mengekor kebijakan stackeholder.

Adalah Bapak M. Syahrial Yusuf yang mempelopori babak baru pendidikan, dengan mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) tanggal 29 Maret 1989. Pola pendidikan bermula dari program kursus 6 bulan, menjadi pendidikan profesi 1-2 tahun. Inovasi mampu membedakan antara seorang pemimpin dengan pengikut, semangat ini digunakan LP3I membangun visi. Maka kata kunci yang dilakukan pun mengandalkan etos kerja dan kerja keras.

Visi LP3I menjadi Lembaga Pendidikan yang terus menerus menyelaraskan kualitas pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, terus dikedepankan. Implementasinya, menerapkan misi LP3I agar tersosialisasikan keseluruh komponen di dalamnya. Konsep pendidikan Link and Match menjadi pilihan.

Model pendidikannya banyak melahirkan lulusan yang berkualitas, siap kerja dan memiliki daya saing. Karenanya hamper 95% out put pendidikan LP3I dapat bekerja di Perusahaan. Kenyataan ini menjadi bukti kejelian LP3I menangkap. Guna mempertajam visi, maka pendidikan formal berbentuk pendidikan tinggi mulai dibidik.

Seharusnyalah, perguruan tinggi di bawah LP3I Group menjadi universitas terkemuka di Indonesia dengan paradigm baru, mengedepankan elemen otonomisasi, evaluative, kredibel dan memiliki akuntabilitas. Bukan mustahil, jika perguruan tinggi di bawah naungan LP3I merubah strategi baru dari universitas pendidikan menjadi universitas riset yang unggul dan berkelas dunia.

Di hari pendidikan Nasional ini, LP3I telah membuktikan bahwa kualitas pendidikan saat ini masih bisa diperbaiki dengan berbagai inovasi yang mengembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat dan membantu membangun anak bangsa untuk menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s